7 Kota Batik Yang Populer di Indonesia

Jual Batik Jumputan Murah
Jual Batik Jumputan Asli Murah
November 20, 2016
Batik Rangrang, Asal, Model, Keunikannya dan Harganya
November 23, 2016

7 Kota Batik Yang Populer di Indonesia

7 Kota Batik Yang Populer di Indonesia, setidaknya mulai dulu ketika saya masih kecil mendengar istilah kota batik, sejatinya adalah daerah penghasil batik yang memang populer walau beberapa saat ini ada yang hampir tidak terdengar lagi dan ada yang sedang mulai menggeliat.

Kota-kota tersebut sebagian pernah saya kunjungi bahkan menjadi tempat tinggal sampai kini, karena kami bermukim di Solo. Ada pula yang belum saya kunjungi. Mari kita simak satu persatu.

1. Kota Solo

Kota dimana kami tinggal saat ini karena sebelumnya tinggal di Surabaya selama hampir 10 tahun. Walau di Surabaya kami juga bergelut dengan batik, kini kami berada di sumber Batik Solo, salah satu Kota Batik terbesar di Indonesia.

Kampung Batik Laweyan adalah salah satu yang terkenal sejak dulu. Bagi kawan-kawan yang jauh dari kota ini dan ingin merasakan geliatnya sejak jaman dulu, membaca Novel Canting karangan Arswendo Atmowiloto, seakan kita disuguhkan nuansa yang kental dengan kehidupan pembatik masa lalu dan geliatnya tidak berubah sampai sekarang.

Kampung Batik Laweyan berada di bilangan Jl. Dr. Rajiman, yang mudah dijangkau oleh kendaraan dari manapun dan tersedia angkutan umum berupa bis.

Kampung Laweyan Solo

Menelusuri jalan di bilangan ini kita disuguhkan dengan bangunan lawas nan kokoh. Konon semenjak dulu bangunan ini yang menjadi ciri khas para juragan batik yang berada di wilayah ini. Tidak hanya jalan besar, ketika masuk ke jalan yang lebih kecil juga bertengger rumah tipe yang serupa dengan nama-nama gerai batik yang menawarkan batik khas Solo hasil dari karya mereka. Batik klasik dengan warna sogan cukup populer dan menjadi ciri khas batik asal Solo ini. Termasuk batik kawung, parang, sekar jagat dan banyak lagi.

Selain tempat ini, Batik Kauman dan Pasar Klewer tidak kalah terkenal sebagai tempat untuk berburu batik. Yang terakhir, pasar ini populer sejak lama. Selalu padat dan macet akan dirasakan terutama pada jam-jam sibuk di siang hari.

Bagi pengunjung dari luar kota, jangan khawatir jika datang ke kota ini dalam hal kuliner. Seakan tidak pernah tidur, dan selalu tersedia aneka makanan 24 jam di tiap sudut kota.

2. Kota Yogyakarta

Hanya 60 km dari kota Solo. Tapi saya tidak pernah sampai 1 jam perjalanan sengebut apapun. Pasti lebih he he.

Kota yang dikenal dengan keratonya, saya pikir sangat pas jika batik akan tumbuh di sini. Sentra batik Giriloyo, adalah sentra batik yang populer selain Ngasem yang berlokasi di sebelah barat Keraton Yogyakarta yang juga berdekatan dengan  Jl. Malioboro yang kesohor itu.

Biasanya berburu batik murah juga dilakukan para pelancong di Pasar Beringharjo. Pasar yang memiliki nilai sejarah seperti Pasar Klewer ini seakan sebelas dua belas dalam masalah harga dan termasuk murah. Hal ini seperti diceritakan salah satu blogger kawakan yang membandingkan kedua pasar  ini sebagaimana diceritakan di sini.

Pasar Beringharjo Yogyakarta

Walau berdekatan, ciri khas Batik Yogyakarta berbeda dengan Solo. Konon Yogya lebih ke nuansa hitam putih yang kental walau dari sisi motif banyak yang memiliki kesamaan seperti halnya yang populer salah satunya adalah parang. Hanya turunannya yang dalam pengembangannya memiliki perbedaan selain warna tadi.

3. Kota Pekalongan

Tahun 2000 kami tinggal di kota ini. Kota yang penuh dengan nuansa tekstil dan kerajinan yang kental. Batik menjadi primadona. Dari pengrajin kecil sampai besar dan bahkan kini menjadi populer di seluruh dunia, hadir dari kota ini. Pak Sapuan adalah salah satu kreator batik yang mungkin hasil karyanya dikoleksi oleh para pecinta batik yang berkantung tebal.

Kemajuan yang sangat terasa ketika 14 tahun kemudian kami berkunjung lagi ke kota ini. Sungguh saya terbelalak karena kemajuannya sangat pesat. Jika dulu hotel berbintang yang kerap digunakan oleh mereka yang berbisnis di kota ini hanya satu, kini entah berapa. Yang jelas banyak.

Yang unik adalah, jika kita masuk ke kota ini dari arah Barat, kita sudah diperlihatkan dengan toko-toko batik. Dari mulai Spait sampai ujung paling Timur yang berbatasan dengan Kota Batang. Pasar batik juga didirikan tidak hanya satu. Yang saya kunjungi saat itu adalah di bagian yang paling Timur dan di bagian yang paling Barat. Musium Batik juga berdiri di sini yang menghadirkan aneka batik mulai jaman dahulu kala sampai saat ini yang digunakan oleh petinggi sampai Presiden.

Batik khas Pekalongan termasuk batik pesisir yang lebih natural. Motif flora dan fauna sangat kental disuguhkan, walaupun sebetulnya motif aslinya adalah Jlamprang.

4. M a d u r a

Kami memiliki kolega dalam pengadaan batik di daerah Tanjung Bumi, Bangkalan Madura. Ketika kami masih tinggal di Surabaya, sering kami mengunjungi kota kecil ini, selain untuk berburu batik juga untuk hunting foto.

Tanjung Bumi adalah salah satunya. Konon dari kota kecil ini lahir Batik Gentong yang populer itu. Batik yang pewarnaannya makin kuat dan timbul khas Madura karena dipendam lama dalam gentong dan bahkan sampai harus melalui waktu tahunan.

Jika kita melalui jalur darat menuju Madura, setelah menyebrang Jembatan Suramadu, maka kita sudah disambut oleh gerai-gerai tradisional yang menjajakan khas Madura termasuk batik. Jika ke arah kiri, kita akan menuju kota Bangkalan dimana sebelum masuk kota, juga kerap ditemui pengrajin dan toko batik di pinggir kiri kanan jalan.

Selain di Tanjung Bumi, Batik Sumenep di Madura juga termasuk yang kerap saya dengar. Pengaruh Keraton Sumenep berperan besar dalam perkembangan batik di kota ini, sebagaimana saya kutip dari Wikipedia :

Batik Tulis Sumenep merupakan salah satu warisan budaya dari Keraton Sumenep. Secara Umum batik tulis ini hampir sama dengan batik tulis di Madura pada umumnya, namun yang membedakan dari daerah lain, selain pewarnaannya yang cenderung kontras, batik tulis Sumenep mempunyai motif yang unik. Sentra batik tulis Sumenep terdapat di daerah Pakandangan, Bluto, sekitar 16 km ke arah selatan dari pusat Kota Sumenep.

5. Kota Lasem

Saya belum kesampeyan mengunjungi kota kecil ini untuk waktu yang sangat lama. Hanya baru keinginan dan walaupun pernah, hanya singgah saja. Padahal kota ini mencatat sejarah dalam perkembangan Batik Nusantara.

Sejujurnya saya mengenal batik lasem ketika membaca sebuah literatur tentang timbulnya Batik Tiga Negeri yang kesohor dan terkenal mahal itu. Batik ini dibuat di tiga kota salah satunya Lasem yang menyumbang warna merah, Pekalongan yang menyumbang warna Biru dan Solo yang memberikan sentuhan warna sogan.

Dari beberapa referensi yang saya baca, Batik Lasem termasuk ke dalam batik pesisir dimana pertemuan antara pendatang dan pribumi termasuk batik keraton menyatu dan tumbuh berkembang menjadi batik yang khas.

Ciri khusus Batik Lasem yang tidak akan temui pada batik jenis lainnya adalah warna merahnya yang terkenal dengan nama warna Abang Getih Pitik atau warna darah ayam. Warna ini terbuat dari akar mengkudu dan akar jiruk ditambah air Lasem yang kandungan mineralnya sangat khas. Warna ini bahkan tidak dapat dibuat di labolatorium. Heri Agung Fitrianto, Kompasiana.

Kelak saya harus mengunjungi lagi kota ini dan tentunya tinggal lebih lama dari sekedar hanya mampir, supaya dapat cerita banyak.

6. Kota Cirebon

Di tengah kesedihan rontoknya pengrajin batik di Jawa Barat, saya merasa bersyukur, Cirebon dapat mewakili sebagai salah satu Kota Batik yang masih semarak. Adakah Kampung Trusmi yang kerap dijadikan tujuan wisata berburu batik.

Di daerah inilah terlihat semarak, menggeliat dan nuansa daerah batiknya sangat terasa. Para pengrajin berlomba untuk membuat karya terbaiknya dan pedagang memberikan penawaran terbaik kepada mereka yang hadir ke daerah tersebut. Tidak jauh berbeda kondisi secara umum dengan kota batik lainnya. Cirebon dapat melalui masa-masa sulit dalam perkembangan dunia perbatikan.

Ciri khas batik Cirebon adalah motif mega mendung yang juga sangat terkenal dan sering dipadukan dengan motif klasik seperti parang dan kini tidak hanya biru yang menjadi kekhasan warnanya namun sudah digabung dengan warna-warna lain. Dan tidak hanya berwarna gelap, bahkan kerap kita temui warna-warna cerah dengan motif tersebut. Reportase lengkap tentang batik Cirebon, dapat mengunjungi blogger hebat ini.

7. Kota Tasikmalaya

Siapa dinyana Tasikmalaya pernah menjadi Kota Industri Batik di pantai selatan dan termasuk yang terbesar di Negeri ini. Mitrabatik konon gaungnya menasional dan sisa-sisa kejayaannya masih terlihat dari yang tidak hanya sekedar nama jalan. Namun yayasan pendidikan masih berdiri dengan sekolah-sekolah untuk berbagai tingkatan.

Namun kini kepopulerannya sudah pudar. Saya pernah ikut dengan kakek saya yang buruh batik cap di bilangan Karangresik. Demikian pula saya kenal dengan salah satu tokoh batik dahulu, yakni Bapak Udey Budiman ketika beliau mengungsi pada masa Galunggung menggempur kota Tasikmalaya yang dibanjiri lahar dingun. Saudara kami masih menyimpan batik tulis karya beliau yang memiliki nuansa hijau yang dipesannya 20 tahun yang lalu.

Walau masih ada, namun tidak seramai dulu. Saya masih mendengar ketika berbincang batik di daerah tersebut masih terlontar batik tasikan dan batik sukapura. Konon dulu sangat menggema dan memiliki penggemar tersendiri. Motif flora dan fauna kerap menghiasi bentangan kain batik dari kota ini.

Tasikmalaya beriringan dengan Ciamis yang juga pernah terkenal dengan Rukun Batiknya. Pabrik kain mori di Ciamis adalah tempat saya bermain di halamnanya yang luas ketika masih SMP. Bahkan kami kerap melakukan shalat Jum’at di sana. Suara gemerisik mesin tenun masih terdengar jelas di telinga saya yang kini konon sudah tidak dirasakan lagi kebisingannya.

Semoga kelak dapat menggeliat lagi, menyusul kota-kota lainnya yang lebih dahulu menemukan kembali suasana tempo dulu dimana batik selalu menjadi daya pikat dalam berbusana.

Summary
7 Kota Batik Yang Populer di Indonesia
Article Name
7 Kota Batik Yang Populer di Indonesia
Description
7 Kota Batik Yang Populer di Indonesia, setidaknya mulai dulu ketika saya masih kecil mendengar istilah kota batik, sejatinya adalah daerah penghasil batik
Author
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 2 =